gkr-hemas-pernikahan

G.K.R. Hemas tidak pernah membayangkan akan menjadi permaisuri Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan istri Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan, bayangan itu juga belum muncul ketika dia sudah menjadi istri dan memiliki beberapa anak dari KGPH Mangkubumi, putra Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Jadi, tentu bukanlah karena atribut gelar dan pangkat yang dimiliki mendorongnya bersedia dinikahi oleh Bendara Raden Mas Herjuno Darpito yang di kemudian hari bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sri Sultan H.B. X).

G.K.R. Hemas berjumpa pertama kali dengan Sri Sultan H.B. X, yang saat itu dipanggil Herjuno, pada suatu hari di penghujung tahun 1960-an. Ketika itu G.K.R. Hemas sedang berada beberapa hari di Yogyakarta sehubungan dengan meninggalnya eyang kakungnya, RW Karti Sastro Sudirjo,  di kampung Suronatan, Jeron Beteng, bersebelahan dengan tembok Keraton. Saat itulah Herjuno yang sedang makan bakmi bersama sahabat-sahabatnya sempat sekilas memandang G.K.R. Hemas yang sedang lewat masuk ke dalam gang.

Kali kedua di tempat yang sama, ketika baru saja tiba diujung gang jalan masuk yang agak menurun ke rumah eyangnya, G.K.R. Hemas bersama saudara sepupunya, Yanti, berhenti karena terdengar suara dari rombongan anak muda yang makan bakmi di warung yang berjarak sepuluh meter. Mereka menyatakan ingin berkenalan dengan jeng Tatiek (nama G.K.R. Hemas). Salah seorang diantaranya adalah Herjuno, yang didorong-dorong oleh teman-temannya untuk berkenalan dengan G.K.R. Hemas. Mereka pun berkenalan dan bersalaman.

Pada kesempatan lain, G.K.R. Hemas pun dirayu dengan tembang Jawa yang dinyanyikan oleh Sri Sultan H.B. X yang datang apel ke  rumah. Heran bercampur geli, sebab G.K.R. Hemas sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa, sehingga tidak tahu makna uyon-uyon yang dinyanyikan Sri Sultan H.B. X. G.K.R. Hemas sadar betul bahwa calon suaminya tersebut bukan tipe orang romantic, namun perhatiannya yang tulus dan sungguh-sungguh membuat cintanya makin bertumbuh subur. Tresna jalaran seka kulina, cinta karena biasa bertemu, membuat G.K.R. Hemas pun menerima laki-laki asal Jawa itu menjadi kekasihnya.

Perhatian luar biasa terhadap hubungan G.K.R. Hemas dengan calon raja Keraton Yogyakarta itu justru datang dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Buktinya, satu hal yang sangat istimewa, G.K.R. Hemas dilamar sendiri oleh Sultan yang jumeneng saat itu, tanpa utusan ndalem.

Sri Sultan H.B. X mengisahkan sebelum proses lamaran, orang tuanya memintanya menyiapkan lamaran, lalu Sri Sultan Hamengku Buwono IX menandatangani dan ternyata kemudian dibawa sendiri, hanya diantar berdua dengan dirinya. “Saya nggak berani tanya. Hari itu pukul lima sore kami berangkat ke Cipete. Memang selama ini beliau tahu hubungan saya dengan Jeng Ratu, beliaupun tahu orang tuanya kerja apa. Beliau tahu persis,” ungkap Sri Sultan H.B. X.

gkr-hemas-pernikahan-2

Kehidupan G.K.R. Hemas berubah drastis ketika KGPH Mangkubumi dinobatkan menjadi raja dengan gelar resmi Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kamping Sedasa atau Sri Sultan H.B. X pada tanggal 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921). Otomatis G.K.R. Hemas bersama keluarga harus turut serta masuk ke dalam keraton mendampingi sang Raja. Dan itu bukan perkara mudah! Sebab, tata cara dan tradisi keraton yang sudah berjalan langgeng berabad-abad merupakan atmosfer baru yang harus dijalaninya.

Mau tidak mau proses adaptasi, mulai dari membangun suasana di Keraton Kilen sebagai kediaman mereka harus dilakukan oleh G.K.R. Hemas. Ia harus mulai terbiasa untuk dilayani oleh para abdi dalem yang semuanya berbahasa Jawa halus. Selaku Permaisuri, ia juga menjalani tugas-tugas yang melekat pada diri seorang istri Raja. Semua tradisi itu tidak boleh ditinggalkan. Ngarsa Dalem Sri Sultan H.B. X menyadari betul ada shock culture yang dialami oleh sang istri. Namun kebijaksanaannya sebagai seorang suami sekaligus Raja, Sri Sultan H.B. X memilih sikap untuk menuntun pada awal kehidupan di keraton, dan setelah itu membiarkan G.K.R. Hemas berproses sendiri dalam adaptasinya dengan kehidupan keraton.

Nyatanya bisa, begitu komentar Ngarsa Dalem tentang masa-masa sulit yang harus dilewati G.K.R. Hemas saat berdiam di dalam keraton. Meski, Sri Sultan H.B. X berkisah, terkadang G.K.R. Hemas tidak menengok saat dipanggil dengan sebutan “Kanjeng Ratu”, karena lupa ia sudah menyandang gelar itu. G.K.R. Hemas sangat dekat dengan Ibunda Sri Sultan H.B. X yang bernama Kanjeng Raden Ayu Windyaningrum. Dia belajar bahasa Jawa dan beberapa unggah-ungguh di dalam keluarga, dari istri kedua Sri Sultan Hamengku Buwono IX itu. Namun demikian, semua harus dijalaninya sendiri, melalui proses tanpa paksaan agar muncul kesadaran dan kemauan untuk mengubah dirinya, dari seorang awam menjadi keluarga keraton yang masih ketat menjaga adat istiadat Jawa.

Seiring perjalanan waktu, Keraton Kilen yang semula dianggap menyeramkan bagi anak-anaknya, berubah menjadi lingkungan yang menyenangkan. Semua tidak lepas dari tangan dingin G.K.R. Hemas yang memiliki latar belakang pendidikan landscape, yang mampu mengubah Keraton Kilen menjadi tempat yang ideal membesarkan kelima putrinya. Perubahan fisik Keraton Kilen itu seakan menjadi saksi bagaimana adaptasi budaya sudah berhasil dilakukan oleh G.K.R. Hemas.