gkr-hemas-lahir-dan-takdir

Gusti Kanjeng Ratu Hemas (G.K.R. Hemas) dilahirkan di sebuah klinik di Jalan Lauser, Mayestik, Jakarta Selatan, tidak jauh dari rumah orang tuanya yang terletak di Jalan Limau. Kelahirannya pada 31 Oktober 1952 ditolong oleh seorang bidan bernama Soekestri yang merupakan ibunda dari Radius Prawiro.

G.K.R. Hemas adalah anak ketiga dari Kolonel (Purn.) R. Soepono Digdasastrapranata dan R.Ngt. Soesamtilah. Kedua kakaknya laki-laki, Liliek Drajad Susbiantoro dan Totok Drajad Sustiartono, sehingga kelahiran G.K.R. Hemas memang sangat dinantikan oleh ayahnya yang mendambakan anak perempuan. Sebab, Soepono tidak hanya memiliki dua anak laki-laki, namun saudara-saudara sepupunya yang kebanyakan laki-laki pun memiliki banyak anak laki-laki. Anak berikutnya dari Soepono dan Soesamtilah, yaitu anak keempat hingga ketujuh, ternyata juga anak laki-laki. Mereka adalah Wawiek Drajad Suswahyudi, Susi Drajad Suswahyuhono, Ade Drajad Sustiadi dan Tony Drajad Susriyadi.

G.K.R. Hemas diberi nama Tatiek Drajad Suprihastuti oleh ayahnya. Penambahan Drajad diberikan Sastrodimedjo, eyang kakung G.K.R. Hemas, ayah dari Soepono. Tambahan Drajad dimaksudkan oleh eyang kakungnya agar keturunannya memiliki derajat yang tinggi di dalam hidup. Tambahan nama Drajad itu pun diberikan kepada semua anak Soepono, saudara kandung G.K.R. Hemas.

Menyusul kelahiran G.K.R. Hemas diadakan seremoni yang dilakukan oleh orang tuanya berkaitan dengan kesamaan weton G.K.R. Hemas dengan ayahnya. Dalam acara adat yang lazimnya diselenggarakan pada acara “Selapanan” itu, ibu G.K.R. Hemas “menjual” anaknya kepada kerabat yang hadir.