gkr-hemas-kecil-1

Tinggal bersama keenam saudara kandungnya yang seluruhnya laki-laki, menggiring G.K.R. Hemas turut bermain dengan permainan laki-laki, seperti mengejar laying-layang bersama adik-adiknya, atau ikut mencari ikan di dalam got di Jalan Barito bersama kedua kakaknya. Namun sebagai anak ketiga dia juga dituntut untuk bertanggungjawab dan menjadi teladan bagi keempat adiknya. Misalnya, dia ikut mempersiapkan perlengkapan sekolah dan mengatur sarapan pagi adik-adiknya. Apalagi setelah kedua kakaknya pergi ke Jerman untuk melanjutkan studi dalam waktu lama (18 tahun), maka dipundaknyalah beban “kakak tertua” itu berpindah.

Perhatian dan pengawasan G.K.R. Hemas yang intens secara khusus diberikan kepada adiknya yang nomor enam, Ade Drajad Sustiadi, karena dia menyandang cacat (penyakit hidrosefalus). Dia yang mengantar dan menjemput adiknya tersebut sejak berusia tiga tahun di Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC). Kepeduliannya pada adiknya ini tak pernah pupus. Bahkan, ketika dia sudah menikah pun adiknya diajaknya pindah bersamanya ke Yogyakarta. Dia pula kemudian menikahkan adiknya itu dengan susternya.

Hubungan G.K.R. Hemas dengan adiknya ini penting untuk digarisbawahi, karena mengajarkannya tentang kepedulian kepada mereka yang berkekurangan dan marjinal. Dia memahami betul kondisi keterbatasan adiknya itu, dank arena kerap mengantarkan adiknya ke YPAC, disana dia juga tidak hanya menemukan keterbatasan para penyandang cacat lainnya, tapi juga persoalan-persoalan yang membelit para pengelola panti.