ponpes

Pondok pesantren tidak saja sebagai penjaga moral bangsa, akan tetapi juga harus mampu melestarikan kebudayaan dalam masyarakat. Demikian disampaikan GKR Hemas dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren Darul Mu’min Tegal Rejo, Bawuran, Pleret, Bantul (24/3) lalu.

GKR Hemas diterima oleh Pengasuh Pondok Pesantren KH. Ahmad Murtadho dan sebagian masyarakat Bawuran, utamanya para kaum ibu. Wakil Ketua DPD RI ini menjelaskan bahwa pondok pesantren dapat menjadi filter moral bangsa dalam menjalankan roda pemerintahan. Negara harusnya mampu menyatukan antara pemimpin dan rakyatnya.

Sementara itu, GKR Hemas mengatakan bahwa Yogyakarta adalah satu-satunya provinsi yang menjadi barometer (panutan) se Indonesia. Pada periode 2009 – 2014 Permaisuri Raja Keraton Yogyakarta ini dapat menyelesaikan UU Keistimewaan Indonesia. Dan salah satu pilar keistimewaan Yogyakarta itu adalah bidang kebudayaan. Dan kebudayaan itu sangat mendukung pluralisme.

“Pondok pesantren harus kencang dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan yang menjunjung pluralitas. Jangan ada pengelompokan dan pengkotak-kotakan dalam masyarakat. . Kelompok-kelompok yang tidak mendukung kebudayaan, tentu tidak perlu kita ikuti. Sehingga kebudayaan Yogyakarta terus dilestarikan. Masyarakat hendaknya harus bisa nguri-uri kebudayaan dan taushiyah para Kiyai juga harus senantiasa diikuti,” demikian dikatakan GKR Hemas.

Di hadapan ibu-ibu muslimat, GKR Hemas menambahkan bahwa kaum ibu hendaknya juga terus bisa menata generasi muda kita. “Di tangan ibulah generasi muda dapat menjadi pemimpin yang baik bagi bangsa dan Negara ini,” GKR Hemas mengakhiri pembicaraan dalam dialog tersebut.